Menghayati Sholat Info Lainnya

Menghayati Sholat

MENGHAYATI SHALAT :
“Dari keagungan Tuhan menuju penebaran salam”
Oleh Enjang Faozi

Huston Smith, dalam bukunya,”The Religions of Man”, menyatakan bahwa ada kerinduan alamiah dari hati manusia untuk menumpukan cinta dan rasa syukur kepada Sang Kholik. Seiring dengan hasrat ini, ada suatu kebutuhan untuk menempatkan kehidupan dalam perspektif yang benar. Bahwa manusia adalah makhluk dan Al-Kholik lah Sang Penguasa Hidup.
Smith menambahkan bahwa pelajaran yang paling sulit bagi manusia adalah kesadaran bahwa ia bukanlah Tuhan. Dikatkan demikian, karena manusia mempunyai kecenderungan untuk menempatkan dirinya di titiki pusat. Bahkan hidup dengan hukum-hukum ciptaannya sendiri. Lebih berbahaya lagi bila manusia memainkan peranan Tuhan. Kehidupan akan menjadi kacau balau.
Asumsi inilah yang mendasari diwajibkannya seorang muslim untuk menegakan shalat. Yakni agar mereka tetap teguh dalam perspektif yang benar. Habib Abdullah Al-Haddad, dalam bukunya,”Nashoh Al-Diniyyah wa Al-Washoya Al-Imaniah” (nasehat agama dan wasiat iman), mengatakan bahwa kedudukan shalat pada sisi agama seperti kedudukan kepala pada tubuh. Jika orang tidak bisa hidup tanpa kepala, begitu juga agama tidak bisa kokoh tanpa shalat. Inilah maksud, “shalat adalah tiang agama. Siapa menegakan shalat berarti menegakan agama. Siapa saja yang meninggalkan shalat berarti menghancurkan agama (al-hadits). Kalau begitu shalat mempunyai tempat yang sangat penting dalam agama. Dikatakan, bahwa amal pertama seseorang yang dihisab adalah shalat. Bila shalatnya dinilai baik, maka baiklah seluruh amalnya. Sementara itu, bila jelek nilai shalatnya, maka jelek pulalah seluruh amalnya. Dari sudut ini dapat ditarik konklusi, ada pertautan antara pemikiran Smith dan Al-Haddad. Bahwa secara alamiah (fitrah) manusia mempunyai kecenderungan (potensi) ke arah kebaikan maupun keburukan. Ada tarik menarik antara kebaikan (taqwa) dan keburukan (fujur). Dalam hal ini, shalat didesain untuk membimbing manusia ke arah kebaikan dan tetap teguh dalam kebaikan tersebut.
Shalat mempunyai dua hakikat. Demikian Al-Haddad melanjutkan. Pertama hakikat lahir. Dan yang kedua hakikat bathin. Shalat yang tidak memenuhi hakikat dianggap tidak sempurna. Adapun hakikat lahir adalah berdiri, membaca, ruku’, sujud dan semisal itu, yang termasuk kategori rukun fi’li. Sedang hakikat bathin adalah khusu’, hadir hati, ketulus-ikhlasan yang sempurna, meneliti dan memahami makna-makna bacaannya, tasbih dan yang semisal itu. Yang kedua ini termasuk kategori rukun qauli (ucapan) dan rukun qolbi (hati).
Dengan demikian dapat dilihat bahwa dalam shalat terdapat perbuatan badan (jasmani) dan ada pula perbuatan hati (rohani). Gerak rohani dan jasmani yang bertautlah yang menjadi perhatian Allah. Bahkan dalam hadits dikatakan,”sesungguhnya shalat itu adalah ketenangan hati, kerendahan diri dan permohonan jiwa”. Dalam konteks inilah kita mengenal konsep khusyu’. Artinya, yang dicatat oleh Allah dari shalat seorang muslim adalah sebanyak yang ia hadir bersama Allah dan kekhusyuan hati terhadap-Nya.
Diceritkan, tatkala rumah Sayyidina Ali bin Husin ra terbakar, beliau sedang khusyu’ dalam sujudnya. Orang-orang panik. Mereka berteriak-teriak memanggilnya. “wahai cucu Rasulullah ! api ! api !. namun belau tetap dalam sujudnya tanpa mengangkat kepala. Setelah selesai shalat beliau diberitahu tentang peristiwa yang terjadi. Beliau mengatakan, “ saya sedang disibukan dengan api akhirat ketika itu”. Pertanyaannya, kenapa beliau tidak mengetahui peristiwa yang terjadi ? Karena, dalam shalatnya beliau hanya menghadirkan hati kepada Allah. Beliau khusyu’. Dan beliau pun tahu benar betapa tinggi derajat shalat dan betapa penting kedudukannya di sisi agama. “benar-benar beruntung orang-orang yang beriman. Yaitu orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya”. (QS. Al-Mukminun : 1-2)
Bagaimana shalat yang khsusyu’ ? tentang ini, menarik menyimak uraian Al-Haddad,”diantara memelihara shalat dan mendirikannya ialah menimbulkan kekhusyu’an dalam diri dengan sebaik-baiknya, menghadirkan hati, meneliti bacaan dan memahami maknanya, merasakan rendah hati dan diri ketika sedang ruku’ dan sujud. Memenuhi hati dengan kebesaran Allah dan kesuciannya ketika bertakbir dan bertasbih pada seluruh gerak-gerik dalam shalat. Mengosongkan segala pikiran dan detikan hati yang menyangkut urusan dunia dan meninggalkan pembicaraan dalam diri pada waktu shalat. Hendaklah menumpukan segala perhatian kepada upaya mendirikan dan menunaikan shalat secara lebih baik. Sebab, shalat tanpa menghadirkan hati dan kekhusyu’an adalah tidak berguna sama sekali.
Tempatnya khusyu’ adalah dalam hati. Kata untuk hati dalam bahasa arab adalah “qalbu”. Sebuah hadits menyebutkan “dinamakan hati hanya karena perubahannya. Perumpamaan hati laksana bulu yang menempel di pangkal pohon yang dirubah hembusan angin secara terbalik” (HR. Ahmad). Menurut Al-Bajuri, dalam kitab Hasyiyah Al-Bajuri,”innama summiyal qalbu litaqallubihi”(disebut dengan qalbu karena kebiasaan hati yang tidak tetap pada suatu keadaan,”taqallub”, :bolak-balik). Memang hati suka berubah-ubah. Pagi senang sore susah. Malam gembira pagi berduka. Itulah sebabnya dikatakan bahwa manusia diciptakan dalam keadaan keluh kesah. Dalam cukup ia bahagia. Ketika kekurangan ia menderita. Firman Tuhan menegaskan ini,”sesungguhnya manusia diciptakan berkeluh kesah lagi kikir. Dan apabila ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah. Dan apabila mendapat kebaikan ia amat kikir. Kecuali orang-orang yang shalat. Yaitu mereka yang tetap mengerjakan shalatnya”. (QS.70:19-23).
Disinilah maknanya, seorang muslim harus menegakan shalat. Karena dalam shalat terdapat latihan hati agar tetap teguh. Dalam arti sepernuhnya menyadari kemahabesaran Allah SWT. Dan menyerahkan dirinya kepada kehendak ilahi sebagai penguasa yang berhak atas hidup. Cara pandang inilah yang harus terus dipertahankan. Bila hati telah lurus dan tetap pada satu jalan, maka akan terpancarlah gambaran jiwa yang tenang dan damai. Tidak hanya untuk dirinya. Tapi juga untuk orang lain. Pada tataran inilah kita menemukan dimensi eksoteris (dimensi etik moral) dari shalat.
Firman Allah mengatakan, “sesungguhnya shalat dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar,” (QS. 29:45). Senada dengan ini Rasulullah SAW mengatakan,”siapa saja yang shalatnya tidak mencegah/menghalanginya dari perbuatan keji dan mungkar, tidaklah dia bertambah dekat dengan Allah, melaikan bertambah jauh”. Orang yang mengerjakan shalat cukup banyak. Sedangkan yang menegakannya sangat sedikit. Menarik memperhatikan analisa Al-Ghazali dalam kitabnya,”mukasyafatul Qulub”, perihal dipakainya kata “al-mushallin” (orang-orang yang shalat) merujuk kepada orang-orang munafik. Lihatlah firman Allah,”maka celakalah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang yang lalai dari shalatnya”, (QS. 107:4-5). Tapi ketika menunjuk kepada orang-orang mukmin, demikian Al-Ghazali, al-Quran menggunakan “wa al-muqiimiina al-shsalata” (orang-orang yang mendirika shalat) (QS. 4:162). Dikatakan begitu, karena menurut Al-Ghazali yang shalat itu banyak. Tapi mereka lengah dalam amal. Shalat dilakukan dalam rutinitas yang kosong dari penghayatan nilai-nilai etik moral. Shalat model ini baru sampai pada hakikat lahir. Padahal ada juga hakikat bathin shalat. Shalat yang sebenarya adalah shalat yang menjadikan damai orang yang melaksanakannya. Dan menebarkan kedamaian yang diperoleh itu kepada orang lain. Coba kita perhatikan penutup shalat. Di sana ada ucpan “salam” sambil menoleh ke kanan dan ke kiri. Ucapan salam tidak lain adalah doa keselamatan, kesejahteraan, dan kesentosaan bagi orang banyak. Maka pesan dasar shalat adalah mengagungkan Allah (ucapan Allahu Akbar : Allah Maha Besar) yang mengindikasikan hubungan dengan Allah (hablumminallah). Dan pengejawantahan “takbir” tersebut pada kehidupan. Yaitu doa keselamatan, kesejahteraan, dan kesentosaan bagi orang banyak (ucapan salam). Yang terakhir ini mengindikasikan hubungan dengan sesama manusia (hablumminannas). Denga demikian, dalam shalat kita tidak hanya menjalin hubungan dengan Allah. Tapi juga dengan manusia. Shalat yang sempurna adalah shalat yang dapat melintas dari mengagungkan Allah kepada penebaran “salam” (kedamaian). Kata “salam” satu akar dengan kata Islam. Islam memang agama kasih sayang “rahmat” dan kedamaian “salam”

 

Schools MATSAMA manaqib Beasiswa Yatim Pondok Orang Tua Siswa Guru Ucapan Selamat Pengajian Mingguan Pengajian Bulanan Study Tour Design Grafis Pidato Muhadorh Rohis Qiroat Hadroh Pencak Silat Taekwondo Marawis Nasyid Paskibra Pramuka Ekstrakulikuler Osis Kegiatan Sekolah

Profil Penulis

Administrator

Administrator
Administrator adalah seorang web programmer yang bekerja sebagai freelance programmer dan tenaga IT di salah satu perusahaan swasta di daerah DKI jakarta, juga seorang Founder dari createkno.info dan acengwahab.info yang telah melahirkan banyak website inovatif.

 

    0 Komentar Pada Artikel Ini

 

Tinggalkan Komentar