Rabu, 19-01-2022
  • Anything Is Nothing Without Sincerity ●●● الهي انت مقصودي ورضاك مطلوبي اعطني محبتك ومعرفتك ●●● Berilmu Amaliyah, Beramal Ilmiah

MELANGGAR ATURAN BUKANLAH HAL NORMAL, APALAGI DINORMALISASI !

Diterbitkan :

MELANGGAR ATURAN BUKANLAH HAL NORMAL APALAGI DINORMALISASI

Sebuah refleksi kedisiplinan : QS An Nisa : 59

Sejak jumat, 26 nopember 2021 surat pemberitahuan diedarkan, setidaknya saat tulisan ini dibuat, pelaksanaan pekan PAS (Penilaian Akhir Semester) Gasal sudah menginjak hari ketiga. Seperti halnya pada PAS atau ulangan-ulangan bersama lainnya, kita mendapati lingkungan sekolah sangat berbeda. Hal ini dapat diamati dari banyaknya jumlah siswa yang hadir, meningkat secara signifikan ketimbang  hari-hari biasa pelaksanaan kegiatan belajar mengajar, baik daring maupun tatap muka.

Mumpung dalam suasana pekan PAS, mari kita coba jawab dahulu pertanyaan berikut :

Perhatikan kalimat berikut! “Peraturan dibuat untuk …….”

Kata yang tepat untuk melengkapi kalimat di atas adalah …..

  1. Dilupakan
  2. Diabaikan
  3. Dibawa santuy
  4. Dilanggar

    Jika kita memilih satu di antara jawaban di atas, maka bisa jadi ada yang salah dengan logika berpikir kita.

Dalam pelaksanaan ujian, ulangan dan penialain apapun di sekolah terkadang kita menemukan oknum guru yang punya peraturan sendiri saat mengawas. Misalnya peraturan “boleh kerjasama, asal jangan berisik”, mengawas ujian sambil mendengarkan musik lewat fitur hands free, memberikan keluwesan bagi siswa ruang lain untuk “membantu” temannya saat ujian, atau tindakan lainnya baik verbal maupun non verbal yang memungkinkan siswa saling bertukar kunci jawaban dan bukan atas dasar pengetahuannya sendiri. Perilaku ini bisa dikategorikan ke dalam jenis kecurangan, atau biasa disebut “mencontek”.

Saya yakin kita semua, terutama tenaga pendidik, mengetahui bahwa ujian bukan hanya sekedar tes melainkan bentuk evaluasi dari hasil belajar siswa. Yang mana hasilnya berkaitan dengan kondisi belajar mengajar di kelas dan penilain lainnya selama siswa bersekolah. Hasil dari ujian atau ulangan ini memang tidak selalu mencerminkan kemampuan siswa baik pengetahuan maupun sikap. Pun demikian memiliki peranan yang penting untuk hasil akhir laporan belajar atau raport. Terlebih bagi siswa yang mendapat beasiswa jika menduduki peringkat tertentu di kelas.

Oleh sebab itu, mencontek bukanlah budaya yang boleh dianggap lumrah dan normal. Karena dapat mengaburkan penilaian dalam bentuk angka. Apalagi jika tenaga pendidik tidak begitu hapal peserta didiknya.

Hal lain yang perlu kita perhatikan dari lingkungan belajar adalah kebersihan yang merupakan elemen penting dari kenyamanan. Tentunya bau sampah yang menumpuk bisa mengganggu aktifitas belajar mengajar di sekolah, menyebabkan banjir dan genangan bila menutupi aliran air saat musim hujan, dan mengurangi keindahan pemandangan di lingkungan sekolah.

Lebih parahnya lagi, sampah plastik dan sampah anorganik tertentu tidak bisa larut oleh air atau timbunan tanah. Sisa makanan yang tertinggal di dalamnya akan membusuk dan berubah menjadi makhluk seperti belatung, cacing, dan organisme menjijikan lainnya yang dapat menimbulkan resiko penyakit tertentu. hal ini seharusnya menjadi bahan diskusi bersama untuk kemudian ditindaklanjuti mengenai manajemen sampah dan aturan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan belajar. Kita tidak akan tau apa yang bisa kita temukan di laci meja siswa saat bersih-bersih, sampai kita benar-benar mengoreknya dengan tangan sendiri.


Ironisnya, perilaku buang-dan atau-meninggalkan sampah sembarangan  ini tidak hanya menjadi budaya siswa, melainkan juga tenaga pendidik. Sisa makanan yang bisa membusuk, botol bekas minuman kemasan, plastik bekas gorengan, punting rokok dan abunya, bahkan tisu yang entah bekas dipakai untuk apa. Itu semua bisa kita temukan di tempat-tempat yang jelas terlihat oleh mata, juga di sudut-sudut ruangan yang tidak terdeteksi oleh sapu.

Bagi kita yang Muslim, AL-Qur’an adalah pedoman hidup yang harus diikuti aturan-aturannya, baik perintah maupun larangan.

Annisa :59

Ayat ini seharusnya bisa kita jadikan cerminan agar membiasakan diri bersikap disiplin dan menaati aturan terutama dalam beribadah. Menjaga kebersihan dan bersikap jujur juga termasuk ibadah. Sedangkan mencontek adalah kecurangan dan buang sampah sembarangan adalah ketidakbertanggungjawaban. Yang mana keduanya bukanlah sebuah bentuk ketaatan atau hal yang bisa dianggap normal apalagi dinormalisasi.

Kebiasaan kita menganggap hal-hal tersebut sebagai sesuatu yang biasa dan wajar , kelak akan menciptakan lingkungan yang tidak suportif dalam belajar. Sebab siswa yang abai akan merasa kesalahan tersebut dilindungi dan diperbolehkan. Sedangkan siswa yang peduli dengan belajar akan merasa tidak diperlakukan secara adil karena usahanya terkesan sia-sia.

Dalam pandangan saya, pendidikan tidak hanya sebatas mengajari apalagi hanya menyuruh dan memerintah. mendidik seharusnya memiliki arti “turut andil”, “ikut membangun” dan memberikan teladan. Oleh karena itu, kesalahan pendidik di masa lalu tidak seharusnya menjadi pembelaan atau permakluman, melainkan pencegahan dan pembelajaran bagi kesalahan perserta didik di masa sekarang dan selanjutnya.

Terlebih, tenaga pendidik di MA Al-Mukhlishin sangat serius dalam memberikan perhatian terhadap kebersihan dan kenyamanan  di lingkungan sekolah. Beberapa orang bahkan layak mendapatkan penghargaan atas kepeduliannya.

Penting untuk diingat, jika kita tidak mau bergerak kea rah yang lebih baik, maka jangan menghalangi orang yang hendak berbuat baik, dan jangan mengajak orang lain ke jalan yang salah. Belajar dengan rajin dan jujur saat ujian atau peduli pada kebersihan dan sadar membuang sampah pada tempatnya, bukanlah hal yang aneh. Berhentilah menormalisasi hal-hal yang salah, sehingga perbuatan yang benar malah dianggap tidak wajar.

Aturan dan papan pengumuman hanya akan menjadi pajangan jika tidak dibarengi dengan kepedulian dan niat baik terhadap perubahan.

Menciptakan atmosfer yang menyenangkan dalam hal-hal baik tentu akan menciptakan ekosistem belajar yang tidak hanya merdeka, tapi juga belajar yang bahagia.

Terkadang, karena takut menjadi berbeda atau tidak adanya dukungan, kita seolah tidak punya pilihan selain memilih yang sudah tersedia sehingga kita menjadi sama. Padahal -meskipun membutuhkan usaha yang lebih- kita bisa saja membuat pilihan yang lain, yang tentunya lebih baik daripada yang sudah ada. Seperti halnya pilihan jawaban di awal tulisan ini, tambahkan saja pilihan (e) ditaati atau (f) dilaksanakan.

Akhir kata, terimakasih sudah membaca.

—Khoirul Akbar

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan

Penulis : Admin MA

Tulisan Lainnya

Oleh : Guru Menulis

Cara Mendidik Anak Bersosialisasi